Shopaholic, Tobatlah! Ini Kerugian dari Kebiasaan Boros ini

Shopaholic, Tobatlah! Ini Kerugian dari Kebiasaan Boros ini

Apakah kamu pernah menonton film ‘Confessions of a Shopaholic’ ? Film tahun edar 2009 itu menceritakan tentang seorang wanita yang tidak bisa mengontrol hasratnya untuk selalu berbelanja. Hasrat tersebut sangat besar yang membuat kondisi keuangannya menjadi kacau balau.

Istilah lain dari shopaholic adalah ‘compulsive buying disorder’, atau ada juga yang mengatakannya ‘impulsive buying habit’. Walaupun istilah mungkin berbeda, tapi ada satu kesamaan: gila belanja.

Orang yang memiliki kecenderungan sebagai seorang shopaholic biasanya mengalami dorongan yang sangat kuat untuk membeli sesuatu, yang seringkali dorongan untuk membeli ini tidak bisa dihentikan.
Hal apapun akan dilakukan untuk mendapatkan barang yang diinginkannya, walaupun sebenarnya ia tidak membutuhkannya.

Semua cara akan dilakukan meskipun dengan berhutang atau mencicil.
Biasanya hal ini dilakukan sebagai pelampiasan kekecewaan atau untuk memuaskan pikiran yang didera oleh kelelahan, stress atau depresi atau karena desakan membeli karena sebuah situasi.
Biasanya merupakan kegiatan pembelian tanpa rencana karena sifatnya yang tiba-tiba dan spontan. Tentu saja hal ini dilakukan dengan tanpa memikirkan konsekuensi-konsekuensi dari pembelian tersebut.

Shopaholic akan diliputi oleh perasaan ‘senang’ karena pengaruh hormon endorphine yang membanjiri otak saat aktivitas berbelanja dilakukan. Tapi sayangnya rasa senang ini hanya sementara. Rasa senang ini akhirnya akan sirna kembali meninggalkan perasaan penyesalan ataupun perasaan rendah diri.

Untuk menutupi rasa sesal dan rendah diri tersebut, pelaku akan mengulangi kegiatan belanja untuk mendapatkan perasaan ‘senang’ kembali. Demikian berulang-ulang sehingga akhirnya memicu rasa ketagihan untuk melakukannya kembali sebagai bentuk obat atau terapi psikis.

Beberapa ahli mengatakan bahwa shopaholic dilakukan terlebih karena dorongan emosional, rasa senang atau sedih yang berlebihan. Akibat dorongan dari kumpulan hal-hal tersebut, pertimbangan rasional digantikan dengan dorongan nafsu berbelanja. Dorongan ini akan semakin menggila ketika mendengar atau melihat diskon atau strategi pemasaran lainnya. Ditambah oleh kemudahan yang ditawarkan oleh kartu kredit untuk pembayaran melalui cicilan 0%, maka para shopaholic semakin sulit untuk mengendalikan nafsu belanjanya. Apalagi bila lingkungan di sekitarnya mendukung aktivitas
berbelanjanya. Biasanya orang seperti ini akan berkelompok dengan orang-orang sejenisnya yang mereka sebut sebagai “teman” hanya sebagai pembenaran dari perilaku mereka tersebut.

Di era konsumtif seperti saat ini perilaku seorang shopaholic sepertinya semakin berkembang, dengan mayoritasnya adalah wanita. Tapi apakah bisa disembuhkan? tentu saja bisa, dengan kerja keras dari pelakunya. Melalui terapi dengan melakukan pendekatan psikoterapi, pengobatan psikotropis atau melalui terapi keuangan.

Seorang ahli terapi yang memahami psikologi perilaku keuangan seseorang juga dapat membantu untuk keluar dari kebiasaan buruk ini agar bisa lebih bijak dalam mengelola keuangan. Dukungan orang-orang terdekat, serta disiplin keras, perilaku ini dapat ditekan secara bertahap.

Perilaku ini tidak dapat terus dibiarkan. Mengapa?
Jika dibiarkan, nantinya akan menimbulkan dampak negatif pada kondisi keuangan seperti hutang yang menumpuk, masalah kartu kredit, kondisi keuangan yang bangkrut dan berujung pada permasalahan rumah tangga, bahkan hingga mengganggu konsentrasi dalam melakukan pekerjaan sehari-hari. Pada akhirnya jika
dibiarkan akan menghancurkan masa depan.

About admin

Check Also

Sebelum Investasi, Kenali Dulu Soal Pasar Modal

Sebelum Investasi, Kenali Dulu Soal Pasar Modal Nggak cuma menabung, menyisihkan sebagian uang untuk berinvestasi …